Untuk-Mu


Blog EntryPemelintiran MaknaSep 25, '09 12:03 AM
for everyone
Saya suka dengan pemikiran anak-anak karena buat saya, pemikiran anak-anak sangat simpel, tidak banyak justifikasi rekayasa, dan tidak ada agenda tersembunyi.

Begitu pula pada kasus kali ini, yaitu quiz ramadhan online via intranet yang diadakan di kantor saya.

Namanya quiz online, tentunya tidak ada pengawasnya :-) Jadi karyawan yang berminat dapat mendaftar, juga secara online, dan memperoleh user-id.

Quiz berupa 10 pertanyaan multiple choice, yang diambil random dari 30 soal di bank soal, setiap harinya. Dalam sehari, setiap karyawan hanya dapat mengikuti sekali quiz. Dalam seminggu akan dicari 10 peserta dengan nilai akumulasi terbanyak dan waktu tercepat. Waktu sangat terbatas, bila terlalu lama, peserta didiskualifikasi.

Di tata cara quiz, panitia sudah menuliskan peraturan, yang salah satunya kurang lebih berbunyi "Allah mencintai orang-orang yang mengerjakan quiz ini dengan kemampuannya sendiri".

Hadiahnya, uang sebesar Rp 100.000 sampai Rp 500.000. Sangat lumayan untuk tambahan biaya mudik :-)

Sepertinya panitia sudah menutup berbagai ruang untuk karyawan berbuat curang. Waktu sudah dibatasi agar karyawan tidak sempat untuk buka buku atau browsing. Akses sudah dibatasi sehari sekali per user id. Dan sudah pula ada "peringatan" untuk mengerjakan sendiri.

Namun, apa yang terjadi di lapangan? Ternyata ada saja yang berusaha mencari celah. Bagaimana caranya? Beberapa karyawan bekerja sama dengan mekanisme berikut. Karyawan pertama "dikorbankan" nilainya untuk melihat soal-soalnya, kemudian karyawan yang lain mencari jawaban dari soal-soal tersebut. Walaupun random, karena kemungkinannya adalah 10 dari 30, tetap ada soal yang berulang. Kemudian karyawan kedua log in, dengan bekal jawaban dari karyawan pertama, plus dukungan buku dan browsing karyawan lainnya. Demikian seterusnya sampai dengan karyawan terakhir dalam kelompok tersebut.

Ketika ditanya, bukankah cara itu curang? Jawabannya bermacam-macam, "Ini bukan curang, tetapi mencari ilmu, jadi bukan asal menjawab", atau "Ini namanya tolong menolong dalam kebaikan", atau "Nanti kan hadiahnya juga dibagi bareng-bareng", dan jawaban-jawaban lain yang bagi saya merupakan pemelintiran-pemelintiran makna :-)

Iseng-iseng saya coba tanyakan ke anak saya di rumah, bagaimana pendapat mereka. Jawabannya "Ya curang lah. Namanya tes, itu mesti dikerjain sendiri dan gak boleh liat buku". Jawaban yang sangat simpel tetapi tepat sasaran.

Bagaimana pendapat Anda? :-)

Oya, sekedar informasi, akhirnya "rombongan karyawan" tadi memenangkan total hadiah sekitar 1 juta rupiah.

Blog Entry17 Kali dalam Sehari (1)Feb 22, '08 3:59 AM
for everyone

Ceramah Jumat siang ini bagus sekali, temanya tentang Tafsir Al Fatihah.

 

Ustadzah-nya salah satu yang saya suka. Penjelasannya bisa menyadarkan hati, inspiratif, dan bisa segera diimplementasikan. Semangatnya yang berkobar-kobar saat menyampaikan ceramah, walaupun tidak dengan suara yang keras, rasanya membuat pendengar ingin ikut segera bergerak mengikuti saran-saran yang disampaikan.

 

Kembali ke ceramah beliau hari ini. Topiknya tafsir Al Fatihah, tetapi ada juga hal-hal lain yang tidak begitu terkait, yang bermanfaat juga untuk diimplementasikan.  

 

Kita mulai yaa.. J

Mudah-mudahan saya bisa meneruskan semangat Ibu Ustadzah lewat tulisan ini J

 

Al Fatihah selalu kita baca dalam setiap rakaat shalat. Dari shalat wajib saja, sudah 17 kali sehari kita baca Al Fatihah. Shalat seseorang tidak sah jika tidak membaca Al Fatihah (kecuali jika shalat masbuk yang dimulai ketika ruku’ yaaa..). Sedemikian penting posisi Al Fatihah, sudahkah kita memahami maknanya? 

 

Al Fatihah berarti Pembuka. Maka dalam kehidupan sehari-hari, Al Fatihah dapat dibaca saat mengawali sesuatu misalnya pertemuan, pagi hari sebelum mulai bekerja untuk membuka pintu rezeki, sebelum menyampaikan sesuatu kepada seseorang untuk membuka hati orang tersebut, bahkan saat akan melahirkan untuk memudahkan proses kelahiran.

 

Al Fatihah memiliki berbagai nama lain :

 

  1. Ummul Qur’an / Ummul kitab (karena Al Qur’an merupakan inti sari dari isi seluruh isi Al Qur’an

 

  1. Asy Syifa, yaitu obat. Al Fatihah dapat digunakan sebagai doa penyembuh. Dapat dilakukan langsung dengan mendoakan orang / bagian tubuh yang sakit dengan Al Fatihah. Atau dapat juga Al Fatihah dibacakan ke air putih, untuk kemudian diminumkan untuk orang yang sakit.

 

  1. Ruqyah, yaitu penawar gangguan jin.

 

Sebelum membaca Al Fatihah, (dan ayat Al Qur’an manapun) kita diharuskan membaca ta’awudz (A’udzubillahi minasysyaitonirrajiim). Makna dari ta’awudz ini adalah kita merendahkan diri, merasa kecil, memohon kepada Allah, agar melindungi kita dari godaan setan yang kita sama sekali tidak punya daya upaya dalam melawannya.

 

Ta’awudz ini sering disebut juga sebagai pencuci mulut. Oleh karena itu sebaiknya sebelum mengatakan sesuatu, kita ucapkan dulu ta’awudz agar kita dihindarkan dari mengucapkan hal-hal yang ”disusupi” setan.

 

Ternyata agak panjang, mungkin saya potong dulu sini, insya Allah saya lanjutkan lagi yaa.. J


Blog EntryBerdoa ketika HujanFeb 18, '08 9:21 PM
for everyone

Beberapa hari yang lalu, pas hujan deras, saya buat status di yahoo messenger : semoga hujannya reda..

 

Bahas sebentar soal status ym ini, saya selalu mencoba buat status yang positif.. Jadi saya nggak buat ”waduh hujan deras nih”, atau ”Jakarta banjir deh”, atau ”macet beraaat”.. Supaya suasana tidak malah semakin runyam.. Lebih baik kita mengharapkan kondisi yang positif kan yaaa?

 

Orang-orang yang baca status yahoo messenger kita juga, walaupun secara tidak sadar, jadi ikutan berdoa. Semakin banyak yang berdoa, insya Allah semakin mudah untuk dikabulkan Allah.. Kurang lebih begitu pemikiran saya J

 

Ada teman saya yang bilang, kalau memang sudah jelas-jelas hujan deras mah ngapain lagi berpikir positif.. Hehe ada benarnya juga, tapi menurut saya, selama masih bisa berharap, gak ada salahnya untuk tetap berharap.. J

 

Kembali ke status pagi itu.

 

Tiba-tiba masuk instant message dari sepupu saya yang rajin mempelajari hadits. Dapat ilmu baru deh pagi itu..

 

Kata sepupu saya itu, sebenarnya ada doa yang sahih yang berkaitan dengan hujan :

 

Pertama, doa ketika hujan turun :

Allahumma shoyyiban naafi'aa

Yang artnya : Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat (Shahih. HR Bukhari no. 1032)

 

Kedua,  doa agar hujan reda :

Allahumma hawaalainaa wa laa 'alainaa, Allahumma 'alal aakaami wazh zhiroob, wa buthuunil awdiyati wa manaa bitisy syajar.

Yang artinya : Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami, Ya Allah, turunkanlah hujan di dataran tinggi, beberapa anak bukit, perut lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pohon. (Shahih. HR Bukhari dan Muslim )

Naahh.. jadi dibandingkan dengan status pertama tadi, sama-sama berdoa, tetapi ini insya Allah lebih baik, karena dicontohkan nabi Muhammad, ada di hadits shahih, sehingga selain insya Allah mendapat pahala berdoa, insya Allah dapat pahala mengamalkan sunnah.

 

O ya, selain itu, saat turun hujan adalah salah satu waktu yang makbul untuk berdoa. Saya belum cek lagi sumber informasi ini, waktu-waktu makbul untuk berdoa antara lain seperti pada hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum'at, sepertiga terakhir dari malam hari, waktu sahur, ketika sedang sujud, ketika turun hujan, antara adzan dan iqamat, saat mulai pertempuran, dalam ketakutan, atau  sedang beriba hati, dan sebagainya.

 

Jadi berdoa apa pun di saat hujan, insya Allah makbul.

 

Mari kita optimalkan waktu-waktu musim hujan sekarang ini, kita isi dengan semua doa-doa.. J


Blog EntrySudah siapkah kita?Jan 16, '08 7:26 PM
for everyone
Pagi ini baru dapat berita, ada teman SMP yang meninggal.
 
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, semoga Alah mengampuni semua dosa almarhum, dan menerima semua amal ibadah almarhum, dan memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya..
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran..
 
Lalu saya jadi merenung..
 

Dulu waktu masih SD, berita meninggal yang kita dengar biasanya diawali dengan “Telah meninggal kakek / nenek dari teman kita….”

 

Dengan beranjaknya waktu, sekitar umur-umur kuliah dan awal-awal kerja, berubah menjadi, “Telah meninggal ayah / ibu teman kita…..”

 

Akhir-akhir ini, semakin sering terdengar, “Telah meninggal teman kita…..”

 

Meskipun umur sudah Allah tetapkan, dan setiap manusia bisa meninggal kapan saja. Bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua (terima kasih P. Elfradi atas masukannya). Namun secara statistik, secara umum, rasanya usia tetap menjadi salah satu faktor. Dengan sudah semakin seringnya terdengar pengumuman terakhir, sepertinya jatah kita semakin mendekat..

 

Kalau pertanyaannya, sudah siapkah kita? Mungkin kita juga tidak tahu secara pasti ya.. Mungkin yang penting kita berusaha bersiap-siap, sehingga jika pun dipanggil, kita berada di posisi menuju kebaikan.. Mudah-mudahan..


Blog Entry21 Bersaudara!Dec 17, '07 3:15 AM
for everyone

Jumat sore lalu saya pulang naik taksi, supir taksinya sejak awal sudah menunjukkan tanda-tanda keunikan. Begitu saya masuk, dia mencatat sesuatu di kertas, yang bentuknya seperti list, dengan keterangan-keterangan detil.

 

Berikutnya, saya coba bahas soal motor, karena ada motor yang mepet ke taksi saya yang ada di jalur kanan. Langsung dia cerita detil tiga kejadian kecelakaan motor. (Cerita detilnya lebih baik tidak usah saya sampaikan di sini ya, karena membayangkannya saya langsung lemas waktu itu).

 

Kisah berlanjut ke keluarga, berawal dari pertanyaan standar saya, anak sudah berapa. Sekali lagi dia jawab dengan detil, anaknya ada tiga, dan dia sampaikan juga masing-masing tanggal lahirnya!

 

Dia lanjutkan lagi, bahwa dia memilih untuk tidak KB, karena tidak diperbolehkan orang tuanya. Dan bahwa, ibunya punya 21 anak! Subhanallah.. Dari 21 anak itu, 17 sudah menikah. Dia jelaskan juga jumlah cucunya, yang kalau tidak salah sekitar 56. Pak Lurahnya punya 17 anak, Pak Camat 15 anak (ini kalau saya tidak salah ingat ya, hehe..) Minimal setiap keluarga punya 9 anak.

 

Ibunya usianya saat ini 85 tahun, ayahnya 96 tahun, dan masih bekerja di sawah setiap hari!

 

Di mana desanya?

Desanya ada di daerah Kebumen atau Bumiayu, di atas bukit, dengan kondisi yang sulit air, karena lapisan tanahnya hanya sampai kedalaman 1,5 m, di bawahnya adalah cadas sedalam 70 m (kalau saya tidak salah ingat).

 

Di desa ini belum ada listrik. Dan pada kondisi air yang sangat sulit, air yang sudah dipakai akan diproses dengan mesin yang berbahan bakar diesel, untuk dapat digunakan kembali. Hebat juga ya ada mesin seperti ini.

 

Penduduk tidak dibiasakan makan hewan, kecuali setahun sekali pada salah satu hari raya (saya lupa persisnya, tapi bukan Idul Adha).  Menurut dia karena kebiasaan orang Jawa dahulu kala yang dipengaruhi agama Hindu. Mereka hanya makan nasi dengan sayuran, tahu, tempe, dan buah-buahan. Itupun sayur dan lauk pauk hanya direbus. Tidak dibiasakan digunakan minyak goreng, garam, dan bumbu. Mungkin ini sebabnya keluarganya panjang umur.

 

Sampai sekarang dia sendiri makan di Jakarta pun dengan lauk tahu tempe dan sayur seharga Rp 3000.

 

Dia bekerja sebagai supir taksi sejak tahun 1981, tahun 1991 pindah ke taksi yang sekarang. Menikah di Jakarta tahun 1996, tiga tahun kemudian kembali ke kampung halaman dan membangun rumah untuk 3 anaknya, 4 rumah senilai 86 juta!

 

Setiap bulan dia pulang tanggal 25. Jadi 25 hari kerja, 5 hari pulang kampung. Tanggal 24 dia kirimkan seluruh tabungan bulan tersebut dari pool taksi ke bank istrinya di kampung. Tadinya saya sempat heran sedikit. Saya juga orang yang cukup teliti, kok tanggalnya beda. Katanya pulang kampung tanggal 25, kenapa tanggal 24 sudah ditransfer, ternyata tanggal 25 dia masih bekerja, setoran hari itu untuk biaya pulang kampung!

 

Hehe, ajaib juga ya pak supir taksi ini. Saya tidak tahu persis apa semua yang dikatakannya benar. Dari yang tampak saja, semoga ketelitian dan keteraturan yang menjadi pola hidupnya akan membawanya ke kesuksesan dunia dan akhirat. J


Blog EntryMerahasiakan musibahDec 13, '07 10:03 PM
for everyone

Pagi ini dapat SMS rutin dari MQ yang isinya :

 

Merahasiakan musibah, menyembunyikan sedekah, menutupi kelebihan, dan menahan diri dari rasa sakit merupakan simpanan surga.

 

Tertarik dengan aspek merahasiakan musibah, saya coba browsing, ternyata pesan ini sepertinya berlandas pada hadits berikut :

 

Ada tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan yaitu : Merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah, dan merahasiakan sodaqoh.(HR.Athabrani).

 

Saya jadi berpikir lagi, apa merahasiakan musibah dan keluhan ini berarti kontradiktif nggak ya dengan curhat yang sering kita lakukan via blog, email, dan milis?

 

Sebenarnya ada tujuan positif dari curhat di dunia maya, yaitu mencari solusi,  mengingatkan orang lain supaya tidak mengalami hal yang sama, bisa menarik hikmah, atau juga bisa turut mendoakan.

 

Namun mungkin ada juga dampak negatifnya ya.. Ketika kita menuliskan kembali kejadian itu, emosi negatif yang waktu itu kita alami akan terasa kembali. Kalau ceritanya sedih, kita akan sedih lagi, kalau ceritanya membuat kesal, kita akan kesal lagi.

 

Dan semakin ahli kita bercerita, semakin orang yang membaca juga akan terbawa emosi negatif tersebut. Orang lain akan ikut kesal, ikut sedih, walaupun tentunya intensitasnya lebih rendah dari orang yang mengalami.

 

Lebih jauh lagi, kalau orang lain memberi tanggapan yang menguatkan emosi negatif tersebut. “Wah, ini sih memang ngeselin banget Mbak.” “Wah, kesian banget sih, aku ikut sedih nih..”

Kita pun jadi semakin “didukung” untuk merasakan kembali emosi negatif ini, bahkan mungkin dengan intensitas yang semakin tinggi.

 

Lalu baiknya bagaimana?

Mungkin musibah lebih baik segera dicari penyelesaiannya, dan ditutup episodenya. Kalaupun ada niat kita untuk mengingatkan supaya orang lain tidak mengalami hal yang sama, sebaiknya jika solusinya sudah ada. Dan mungkin baiknya ceritanya lebih difokuskan ke solusinya, bagaimana mengatasinya, daripada ke suasana tidak menyenangkannya.

 

Bagaimana jika memang kita bertujuan mencari pemecahan? Mungkin lebih baik curhat ke orang yang bisa memberikan solusi, dan bukan dilemparkan ke forum. Atau, bisa juga tetap dilemparkan ke forum, tapi penekanannya memang ke arah mencari solusi, bukan ke arah berkeluh kesah.

 

Yang mana yang benar?

Mungkin bisa jadi bahan renungan pagi ini, buat saya sendiri juga.. J


Blog EntryIkan yang HilangDec 10, '07 1:22 AM
for everyone

Anakku yang kedua, Zakki, di sekolahnya ada acara Cultural Day yang di dalamnya para kakak kelas belajar berjualan, dan adik-adik kelasnya yang jadi pembeli. Di acara itu Zakki belanja ikan yang mungil J

 

Dia gembira sekali dengan ikan barunya. Kakeknya yang mampir sebentar ke rumah kebagian cerita pertama tentang si ikan J

 

Berhubung waktu itu kita belum punya akuarium dan memang kami sama sekali tidak ada pengalaman punya akuarium, jadi ikannya dimasukkan ke baskom. Baru sebentar airnya butek, ikannya kayaknya bete, sampai sempat loncat keluar baskom J

 

Untung datang ipar saya yang pernah punya akuarium. Jadi ternyata airnya itu mesti ada sirkulasi udaranya yaa.. (hehe asli baru tau..) Solusinya bisa airnya diganti terus, atau dikasi aliran air. Maka solusi pertama pun dijalankan, yaitu air diganti. Kemudian untuk malamnya, supaya air bisa berganti terus, baskom ikannya diletakkan di bawah keran yang menetes J

 

Malam sebelum tidur Zakki sempat tanya, “Kira-kira ikannya akan loncat lagi nggak ya?”

Berdasarkan prinsip bahwa anak sebaiknya dibiasakan berpikir positif tapi juga harus tetap siap dengan kemungkinan terburuk, jadi saya jawab “Mudah-mudahan enggak ya.. Tapi kalau ternyata loncat, ya nggak papa-papa ya Zak?” (jawaban yang tidak menjawab sebenarnya, tapi ya sudahlah, hehe). Untung Zakki bersedia untuk sepakat J

 

Pagi-pagi, berita buruk dari si Mbak. Ternyataaa.. ikannya sudah menghilang.. Waduh..

Sepertinya dia bete lagi, terus loncat keluar baskom lagi.. Mungkin setelah itu dimakan tikus.. Hiks..

Walaupun sudah dipersiapkan dengan kemungkinan itu, Zakki tetap kelihatan sedih mengingat ikannya yang telah hilang.

 

Ayahnya yang tidak tega melihat kesedihan Zakki menjanjikan beli ikan baru plus akuarium hari Minggu.. :-)


Blog EntryTetap Berdoa, Gak Akan Rugi.. :-)Dec 9, '07 8:36 PM
for everyone

Kadang hidup terasa berat karena berbagai masalah yang terasa menghimpit. Satu selesai, masih ada serombongan lagi yang menunggu. Kadang rasa putus asa datang ketika ada persoalan yang rasanya tak mungkin ada solusinya..

 

Padahal, selalu ada Allah J

 

Dalam Al Mu’min 60 disebutkan :

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".

 

Namun terkadang, rasanya kita sudah berkali-kali, bahkan beratus kali berdoa, sepertinya masih belum juga ada perubahan..

 

Naaah.. justru di sini kita perlu ingat hadits berikut..

 

Tiada seorang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, kecuali dikabulkan-Nya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa (HR Ath Thabrani).

 

Jadi, seperti sabda Allah tersebut, sebenarnya doa itu pasti, sekali lagi pasti, dikabulkan. Hanyaaa.. bentuk pengabulannya beda-beda..

 

Pertama, sesuai dengan yang kita minta. Ini pun bisa ada variasinya lagi. Bisa langsung, jadi ketika kita minta mobil jaguar, benar-benar Allah berikan mobil jaguar, at that very moment J Atau bisa jadi waktunya ditunda, atau bendanya yang berbeda. Jadi ketika kita minta mobil jaguar, Allah berikan mobil jaguar-nya 20 tahun mendatang (hehe udah gak keren lagi kali yaa.. gak papa deh.. ) atau Allah berikan motor J

 

Kedua, Allah kabulkan tidak di dunia, tapi nanti jadi simpanan di akhirat. Jadi jaguar yang kita minta memang tidak akan datang kapan pun dalam format apa pun di dunia ini. Tapiiii.. nanti di akhirat Allah berikan sesuatu yang menjadi balasan atas doa jaguar kita itu.

 

Ketiga, Allah gantikan dengan format yang sama sekali berbeda, yaitu Allah cegahkan kita dari musibah atau bencana.. Jadi doa jaguar kita tadi, dibalas dengan dihindarkan dari kecelakaan, misalnya..

 

Kesimpulannya, berdoa gak akan ada ruginya.. J

 

Dikabulkan di dunia sesuai permintaan alhamdulillah, dikabulkan dalam format lain alhamdulillah, dibalas di akhirat, sebenarnya malah lebih alhamdulillah yaa..

 

 Jadiii.. tetap berdoa yaaa.. Yakinlah Allah Mahatau apa yang terbaik untuk kita.. J


Blog EntryRutin Infaq Pagi, Bagaimana Caranya?Dec 6, '07 8:19 PM
for everyone

Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Nabi SallAllahu 'alayhi wasallam, bersabda : "Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, dimana yang satu berdoa : 'Wahai Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya', dan malaikat yang lain berdoa 'Wahai Allah, binasakanlah harta orang yang kikir'". HR. Bukhori, Muslim

 

Mungkin ada yang sudah pernah membaca hadis di atas. Tapi mungkin ketika akan menjalankan, ada kendala antara lain, bagaimana caranya supaya setiap pagi bisa berinfaq? Kan nggak setiap pagi ketemu dengan orang yang bisa diberi infaq?

 

Ada beberapa solusi sebenarnya untuk ini.

 

Pertama, buat celengan/kencleng infaq. MQ, PKPU pernah membuat celengan seperti ini. Atau bisa juga celengan apa saja yang memang direncanakan untuk infaq. Kita bisa letakkan di rumah, di kantor, dan usahakan berada di lokasi yang kita pasti lewati di pagi hari, pada waktu membawa dompet tentunya. Mungkin di dekat garasi, di dekat meja makan, di ruang tamu, atau bisa juga di mobil.

 

Ada baiknya celengan tersebut bisa dibuka tutup, jadi jika pada suatu waktu ada yang membutuhkan, dana infaq tersebut dapat langsung dialokasikan. Tapi jangan diambil buat bayar pesanan mi dogdog ya.. hehe..

 

Solusi kedua, jika belum ada celengan atau celengan dirasa terlalu menyolok, bisa dialokasikan di amplop tertentu. Amplopnya disimpan saja di tas, lemari, atau laci, setiap pagi kita infaq-kan dana ke sana.

 

Solusi ketiga, kalau amplop juga dirasa sulit untuk menyiapkannya, bisa langsung di dompet kita sendiri, uang infaq tersebut diletakkan terpisah di dompet, dari uang yang kita gunakan sehari-hari. Kalau memang di dompetnya ada sekat-sekat terpisah, bisa dialokasikan ruang untuk uang infaq. Kalau tidak ada sekat-sekat, bisa ditandai berbeda. Misalnya khusus uang infaq dilipat dan diletakkan di sisi kanan, paling belakang, hehe.. Jangan sampai tertukar yaa.. :-)

 

Kemudian, bagaimana penyaluran infaq tersebut? Pertama, kalau ada yang membutuhkan, bisa langsung disampaikan. Atau kalau ada kotak infaq di masjid. Atau bisa juga disampaikan via transfer ke rekening-rekening baitul mal, atau yayasan antara lain PKPU (http://www.pkpu.or.id/homes.php), dan

Aksi Cepat Tanggap (http://www.aksicepattanggap.com/v3_index.php).

 

Dengan adanya transfer via ATM, internet banking, sms banking, proses transfer bisa dilakukan dengan mudah, kapan saja.

 

O ya, ada satu cara lagi, sekarang sudah ada infaq melalui SMS. Beberapa operator sempat membuat program SMS seperti ini. Mungkin saya cari dulu infonya, nanti kalau ada saya tambahkan di sini yaa.. :-)

 

Jadi, insya Allah ada banyak jalan untuk bisa merutinkan infaq pagi. Selamat mencoba dan semoga Allah memberikan ganti yang berlipat ganda :-)


Blog EntryKembali ke DinarDec 6, '07 4:01 AM
for everyone

Kali ini saya coba bahas sesuatu yang agak serius tapi santai (hehe..), yaitu tentang uang dinar, atau secara umum uang emas.

 

Dari http://www.talewins.com/money/goldmoney.htm dikatakan bahwa emas yang merupakan alat tukar tertua (sejak 700 SM), yang masih tetap bertahan sampai sekarang, jadi sudah hampir 2600 tahun.

 

Kapan emas mulai berubah menjadi uang kertas? Diawali dengan adanya para pandai emas yang menyimpankan emas untuk masyarakat (dengan biaya tentunya), dan memberikan memberikan kertas tanda terima untuk penyimpanan tersebut. Ternyata, kertas tanda terima ini dianggap lebih praktis sebagai alat tukar. Karena tidak perlu membawa uang emas sekarung misalnya, tapi cukup kertas yang mewakili nilai emas sekarung tersebut. Dalam perkembangannya, pandai emas berkembang menjadi bank dan mata uang pun mulai dipergunakan secara luas.

 

Uang emas, perak, dan perunggu (atau disebut juga uang komoditi) memiliki perbedaan mendasar dengan uang kertas dan uang koin non komoditi (atau  disebut juga uang fiat), yaitu pada nilainya.

 

Nilai uang emas sesuai dengan nilai komoditinya (emasnya), atau sesuai dengan nilai ekstrinsiknya (masih inget pelajaran Ekonomi dan Koperasi SMA? Hehe.. ). Jadi misalnya uang emas seberat 2 gram itu nilai 1 juta rupiah, ya memang itulah nilai emasnya. Berbentuk uang ataupun dilebur, nilainya sama.

 

Sedangkan nilai uang kertas tidak sesuai dengan nilai komoditi (kertasnya). Harga kertas uang Rp 50.000 kita nggak bakal nyampe Rp 50.000. Kalau uang kertas 50.000 itu dihancurkan, dia sama sekali nggak bernilai lagi. Itu karena nilai 50.000-nya diberikan pada uang tersebut. Namanya nilai intrinsik.

 

Nah, dengan menggunakan nilai intrinsik, maka nilai uang fiat sangat tidak stabil. Yang pernah kita alami saja sudah mewakili. Dulu waktu saya masih SD (tahun 80-an), jajan cukup dengan 25 rupiah. Itu sudah dapat permen yang 5 rupiah dapat dua, kerupuk 10 rupiah, gorengan 10 rupiah. Bubur ayam, di SD saya satu mangkok 50 rupiah. Sekarang? Permen paling murah mungkin 100 rupiah ya? Berarti hampir 40 kali lipat. Yang juga jelas terasa adalah perbedaan harga mobil antara sebelum krismon dan sesudah krismon, yang perubahan 2 sampai 3 kali lipat.

 

Bagaimana dengan uang emas. Ada hadis yang menceritakan tentang uang emas di zaman Nabi Muhammad SAW (berarti kira-kira tahun 600M ya..) :

Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli tanahpun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

 

Dari hadis tersebut, bisa kita lihat bahwa uang satu dinar itu senilai 1 sampai 2 ekor kambing. Artinya mungkin dua kambing yang agak kecil, atau satu kambing yang agak besar.

 

Sekarang kita bandingkan dengan kondisi saat ini . Jika kita lihat harga kambing hari ini, dengan referensi antara lain di http://forum.kotasantri.com/viewtopic.php?p=1753 dan di http://www.pkpu.or.id/homes.php, harga kambing adalah 700 – 900 ribu rupiah. Sedangkan nilai uang dinar hari ini, berdasarkan data dari Gerai Dinar melalui sms, per tanggal 4 Desember 2007, setara dengan Rp 1.036.730. Klop dengan harga satu kambing yang besar atau dua kambing yang kecil (mungkin lebih kecil dari kambing kurban yaa.. hehe..). Di sini terlihat bahwa uang dinar atau uang emas, dalam jangka waktu hampir satu setengah abad, masih bernilai konstan.

 

Baiklah, sementara itu dulu cerita tentang uang dinar versus uang kertas. Insya Allah masih ada lanjutannya yaa..


Blog EntryResolusi 2008 – PR dari Mbak IchoDec 4, '07 8:26 PM
for everyone

Kemarin baca di majalah Nirmala, katanya kebahagiaan hidup bisa diperoleh jika kita merasa telah melakukan sesuatu yang bermakna. Untuk itu, kita harus mengenali siapa diri kita dan apa yang paling bermakna buat kita.

 

Jadi malam tadi dan pagi ini saya masih dalam renungan, kira-kira apa ya sebenarnya yang paling bermakna buat saya..

 

Pagi ini tiba-tiba dapet PR dari Mbak Icho, untuk buat resolusi 2008.

Jadi tugas gue adalah :

  1. Buat 8 resolusi hidup kamu untuk 2008 (WAJIB 8)
  2. Sebarkan ke 8 orang, yang kamu tunjuk dan kamu anggap dia perlu perubahan, dan sebutkan alasan kamu, kenapa milih dia
  3. Mampir ke 8 orang tersebut, untuk ngasih tau bahwa mereka dapet PR dari kamu

Sempat terpikir, waduh, dikerjain nih gue, hehe..

Tapi kita harus tetap berpikir positif dong yaaa.. Jadi kembali ke renungan saya hari ini, mungkin memang inilah caranya supaya saya bisa mulai mencoba mencari makna dalam hidup saya.

 

Makaaaa.. inilah Resolusi saya buat tahun 2008, hehe..

 

  1. Mulai bertindak untuk menyelamatkan bumi, sudah mulai mendaur ulang sampah organik jadi kompos (loh jadi sekarang belum mulai juga yah, hehe), mulai bawa tas sendiri ke supermarket (jadi gak perlu kantong plastik), mulai memilah sampah
  2. Bisa nyetir, paling enggak ke supermarket deket rumah J
  3. Bisa masak, paling enggak menu2 standar, jadi pas lebaran gak panik
  4. Sudah menemukan, sebenernya pengen kerja terus di kantor apa kerja yang lain
  5. Hafal juz 30, kalau bisa juz 29 juga J
  6. Mengurangi marah dan bawel, terutama di rumah
  7. Berhasil melarang anak-anak nonton Naruto, hehe..
  8. Mempersiapkan semua kado ultah sebelum hari ultah (gak belated melulu) 

Dan, berikut teman-teman yang saya mohon kesediaannya untuk buat PR, hehe.. Jangan merasa dikerjain yaa.. Look at the bright side. Komitmen yang dibuat tertulis biasanya akan lebih mendorong kita buat mewujudkannya.. Semoga berkenan ya teman-teman..

 

Tita : http://narashelley.multiply.com/, sang ahli masak yang lagi hamil anak ketiga..

Keukeu : http://keukeu.multiply.com/, yang punyak banyak cita-cita

Mbak Moi : http://moiruzuar.multiply.com/, yang sedang memulai bisnis baru, dan ber-homeschooling-ria

Irin : http://irinjunirman.multiply.com/, ibu produser yang ahli lapanpuluhan

Ine : http://indiesel.multiply.com/, biolog yang lagi di Jerman sana

Liesma : http://sibunbun.multiply.com/, ahli masak juga nih, yang foto lasagna-nya bikin ngiler gw J

Ivy : http://ivythesweet.multiply.com/, neng geulis di negeri jiran

Mbak Lita : http://litauditomo.multiply.com/, ibu yang huebat, penggerak pramuka, dan pecinta lingkungan

 

Oke, itu dulu, terima kasih J 

 


Blog EntryTakdir Sebuah BukuNov 28, '07 2:38 AM
for everyone

Pengumuman di kantor hari itu : “Buku hadiah sudah bisa diambil di Lt. 18”.

 

Dari beberapa pilihan judul, jatuhlah ke buku Tazkiyatun Nafs yang merupakan rangkuman Said Hawwa atas Ihya Ulumuddin Al Ghazali, dan saya bawa pulang ke rumah.

  

Waktu Ayah saya datang ke rumah, buku ini yang biasanya dibaca di lantai atas, diturunkan ke ruang tamu. ”Barangkali saja Papa tertarik.” kata suami saya.

 

Ayah saya sempat melihat buku tersebut, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda antusias. Komentar beliau saat itu, ”Oh, ini bukunya Imam Ghazali ya”.

 

Ya sudah, pikir saya, namanya juga usaha.

 

Dua hari kemudian, Ayah saya menelepon, rupanya beliau sedang di toko buku. “Ti, kemarin judul bukunya dan penulisnya siapa ya?” tanya beliau.

 

Wah, rupanya Ayah saya tertarik juga. Saya informasikan judul dan penulisnya, dan juga bahwa buku itu bisa dibeli di penjual buku yang biasa datang ke kantor.

 

“O ya udah, Papa titip belikan ya, di sini nggak ada kayaknya”.

 

Singkat cerita, saya belikan  buku tersebut untuk beliau di penjual buku di kantor, dan saya bawa pulang ke rumah.

 

Di rumah, saya memang tidak begitu banyak memberikan perintah dengan bicara. Tetapi dengan kebiasaan-kebiasaan dan kesepakatan-kesepakatan yang selama ini Mbak-mbak di rumah sudah mengerti.

 

Jadi saya letakkan buku ini di ”lemari titipan” tempat saya meletakkan segala sesuatu yang biasanya akan diambil oleh saudara-saudara yang datang. Bisa Ayah saya, Ibu saya, saudara ipar, adik, teteh, Aa, hehe..

 

Yang saya lupa, di lemari titipan itu sudah ada serangkaian titipan untuk saudara ipar saya.

 

Berangkatlah saya ke kantor, dengan asumsi Mbak-mbak faham maksud saya.

 

Siang tadi telepon berdering. ”Ti, Papa udah di rumah nih, bukunya disimpen di mana?”

 

Rupanya, buku itu sudah diberikan si Mbak ke ipar saya.

 

Gubraksss.. Sempat saya sedikit kesal. Kok bisa salah sih. Kan kasihan Ayah saya sudah datang ke rumah, tapi bukunya nggak ada.

 

Kemudian saya pikir lagi, yah mau gimana lagi, sudah terlanjur, yang penting tindak lanjutnya.

 

Saya pun mulai menyusun kata-kata via sms ke ipar saya, menginformasikan bahwa bukunya salah sambung, mohon dikembalikan.

 

Tapi saya pikir lagi, kok rasanya tidak enak ya. Seperti memberikan sesuatu lalu ditarik kembali.

 

Sempat saya bingung, baiknya bagaimana yaaaa..

 

Tiba-tiba saya seperti dapat ilham. Mungkin memang sudah takdirnya buku ini untuk ipar saya yaa. Siapa tahu dia akan bisa mendapatkan manfaat dari buku ini. Adapun untuk Ayah saya ya saya pesan lagi saja ke bapak penjual buku.. Just that simple J

 

Saya pun lega. Saya infokan ke para Mbak, bahwa mereka tidak melakukan kesalahan. Saya infokan ke suami bahwa buku rekomendasinya disampaikan ke kakaknya. (Nanti kakaknya konfirmasi, dia nggak tau, bingung juga ceritanya, hehe..)

 

Selesailah satu persoalan hari ini J

 

Sepertinya memang kejadian yang di luar ekspektasi, bukan hanya perlu diterima dengan sabar, tetapi harus juga dicari hikmahnya. Pasti, sekali lagi pasti, sekali lagi pasti, (hehe) Allah sudah rencanakan hikmah yang sangat baik dari semua kejadian.


Blog EntryNaruto, Film Anak-anakkah?Nov 23, '07 12:19 AM
for everyone

Ada yang sudah pernah nonton film Naruto di Global TV? Jam tayangnya jam 6 sore. Dulu jam 6 sore adalah jam tayang Avatar. Setelah Avatar habis, Naruto sebagai gantinya.

 

Sepintas Avatar dan Naruto bisa dibilang sama. Sama-sama pendekar cilik, dengan jurus-jurus yang memukau, dan pertarungan sang pendekar melawan musuh-musuhnya.

 

Anak-anak saya yang selama ini hobi menonton film Avatar, begitu habis ada gantinya film Naruto, dan ternyata seru juga menurut dia, jadi suka juga nonton Naruto.

 

Tapiiii..

 

Walaupun kalau secara ideal menurut saya sebenarnya dua-duanya juga kurang baik untuk anak-anak karena ada pertarungan dan cinta, Avatar masih lebih lunak. Pertarungan tidak terlalu detil, hanya menampilkan jurus, dan tiba-tiba musuh jatuh, begitu saja. Interaksi Avatar dan teman-temannya, meskipun kadang sedikit mengarah ke cerita cinta, tidak ada eksploitasi seksual. Dialognya lebih banyak yang lucu.

 

Laaaahh kalau Narutooo..

 

Pertarungannya detil, pedang tertusuk, darah menetes, dengan dialog yang juga kasar. Ada kebiasaan pendekar yang suka main judi, minum minuman keras. Tokoh perempuannya pun seringkali ditampilkan berpakaian minim, dengan adegan yang memang mengeksploitasi penampilan tersebut.

 

Hwaduuuh...

 

Ini sih bukan film anak-anak. Film kartun memang, tapi film kartun dewasa.

 

Pusing deh jadinya. Dan sekarang anak-anak saya sudah terlanjur senang menontonnya. Salah saya juga sih, kenapa tidak sejak awal melarang. Saya memang kurang tegas dalam hal ini.

 

Saya sedang menyusun strategi, bagaimana cara melarang yang simpatik. Hehe.. melarang kok harus simpatik ya..

 

Mungkin saya akan janjikan hadiah, kalau mereka mau berhenti menonton Naruto.

 

Tapi itu akan menjadi preseden ya. Mau sampai kapan digunakan metode hadiah? Ada waktunya memang orang tua harus tegas. Tidak ya tidak.

 

Semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan.

 

Yang pasti lebih mudah untuk saya, semoga GlobalTV memindahkan jam tayang Naruto J


Blog EntryKalau Udah Keburu Mati Gimana?Nov 21, '07 8:37 PM
for everyone

Malam itu seperti malam-malam lainnya, kadang-kadang saya membacakan buku untuk anak saya.

 

Kali ini ceritanya tentang tubuh manusia, meliputi bagian-bagian tubuh, panca indra, pertumbuhan, dan lain-lain.

 

Yang saya suka dari buku ini, selain menjelaskan dari sisi ilmiahnya, juga dihubungkan dengan Islam, aspek keberagamaan apa yang berkaitan dengan topik tersebut serta posisi Allah sebagai Sang Pencipta.

 

Sampailah di topik pertumbuhan, yang di situ digambarkan bayi, anak kecil sekitar 5 tahun sedang bermain, anak remaja sedang mengenakan seragam sekolah, bapak-bapak muda sedang ke kantor, dan kakek-kakek yang sedang membaca Al Qur’an.

 

Saya jelaskan saja apa adanya sesuai gambar tersebut, ”Jadi pertumbuhan itu begini Kak, pertamanya bayi, nggak bisa apa-apa, tiduran aja. Terus tumbuh jadi anak sebesar Kakak sekarang, bisa main, lari-lari. Nanti tumbuh lagi jadi sebesar Kakak SD, ke sekolah. Terus jadi sebesar Ayah, kerja ke kantor. Terus nanti jadi Kakek kayak Abah, nih kayak Abah ya sedang baca Al Qur’an.”

 

Dengan santai dan spontan anakku berkomentar,”Aneh, baca Al Qur’an-nya kok pas udah kakek-kakek, kalau udah keburu mati gimana?”

 

Hwaduh! Pernyataan yang benar-benar mengena. Saya sampai kebingungan menjawabnya :-)

 

Akhirnya saya jawab ”Iya ya Kak. Harusnya dari awal udah mulai baca Al Qur’an ya. Mungkin sih sebenernya dia juga udah baca Al Qur’an dari anak, kakak SD,  bapak-bapak, tapi nggak digambarin di sini.”

 

Jawaban ngeles abis :-)

 

Setelah acara baca buku selesai dan anak saya tidur, saya masih terpikir dengan komentarnya itu.

 

Seringkali kita menunda-nunda perbuatan baik karena merasa ada hal lain yang lebih penting. Padahal jika kita pikirkan lagi lebih jauh, apa yang lebih penting daripada kehidupan abadi, kehidupan sesudah mati, yang kondisinya sangat bergantung dari apa yang kita lakukan hari ini? Bagaimana jika kita tiba-tiba dipanggil saat ini juga? Sudah siapkah kita?

 

Supaya lebih implementatif, yuk kita mulai rutinkan perbuatan baik. Kembali ke gambar yang anak saya lihat itu, sudahkah kita membaca Al Qur’an hari ini? Paling tidak satu ayat, lebih bagus lagi kalau 1 juz. Semoga Allah memberikan kemudahan :-)


Blog EntryHari gembira, ketemu penjual komposter online :-)Nov 20, '07 10:31 PM
for everyone

Berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan (ceileee.. ), sudah lebih dari 3 tahun saya berminat sekali dengan daur ulang sampah. Browsing sana-sini sudah dilakukan, tapi belum ada tindakan yang bermakna J

 

Pernah ada satu tindakan yang dimulai, yaitu daur ulang kertas. Dari browsing ketemu caranya. Di-print lah caranya itu dan dibawa pulang. Mulailah dicoba mengumpulkan semua kertas-kertas bekas. Bon-bon supermarket, kotak-kotak kemasan kosmetik, sampai akhirnya penuh satu laci J

 

Begitu melihat penuh satu laci, dan ternyata harus dipotong kecil-kecil dulu, dijadikan bubur kertas dengan blender. Lunturlah semangat. Jadilah kertas-kertas bekas itu masuk juga ke tempat sampah  J

 

Upaya kedua, cari cara membuat kompos. Hasil browsing lagi, ketemu caranya. Tapi lagi-lagi terbentur kemalasan. Mesti gali lubang atau pakai ember dilubang-lubangi.

 

Jadilah selama tiga tahun hanya jadi wacana, harapan, yang jadi agenda menggantung.

 

Sampai datangnya hari ini J

 

Iseng-iseng cari penjual komposter. Gak online pun gak apa-apalah. Yang penting ada alamat atau nomor telepon yang bisa dihubungi.

 

Pertama ketemu, komposter skala industri seharga 59 juta, gubraksss..

 

Tapi saya tidak menyerah, tetap browsing J

 

Akhirnyaaaa.. jreng jrengggg..

Ternyata ada yang jual komposter online, skala rumah tangga, plus segala perlengkapan larutan-larutannya, 300ribuan saja termasuk ongkos kirim!! Hwaaaaaa.. Menyenangkan sekali! Tinggal ngobrol-ngobrol bentar sama penjualnya via ym. Jadilah sekarang saya akan menunggu datangnya komposter.

 

Sebentar lagi sampah-sampah dari dapur (potongan sayur, kulit buah, kulit udang, sisa makanan lain) dan dari kebun mungil (daun belimbingku, daun-daun kering, belimbing yang berjatuhan) bisa jadi kompos.

 

Dan lebih menariknya lagi, si penjual online ini bisa juga menerima kompos untuk dijual lagi! Hwaaa..

Tapi, untuk yang ini ada persyaratannya katanya. Musti dicek dulu komposisi dan kualitas komposnya. Gak papalah. Namanya juga dampak sampingan. Yang menyenangkan :-)

 

Baiklah, sekian dulu cerita komposter saya hari ini . Nanti akan saya ceritakan perkembangan pemakaian komposter ini yaa.

 

Doakan mudah-mudahan sukses J

 

O ya, mungkin ada yang berminat berkomposter ria juga, tadi saya belinya di www.kencanaonline.com.

 

Gak apa-apa deh saya iklankan gratis J


Blog EntryBerharap untuk yang terbaikNov 16, '07 1:49 AM
for everyone

Makan siang saya ke kantin, pilih sana pilih sini di beberapa counter, akhirnya pilihan jatuh kepada ati ampela, tumis buncis, tumis toge tahu, kerupuk udang.

Yang saya bayangkan dari menu hari itu adalah kemungkinan terbaiknya. Ati ampela adalah rasanya segar dan empuk.  Tumis buncis yang juga segar, renyah, manis. Tumis toge tahu dengan toge yang tidak lagi langu (ngerti langu kan ya? Hehe..). Kerupuk udang yang renyah, tidak amis.

 

Tapi kenyataannya. Benar-benar kemungkinan terburuk. Benar-benar kondisi sebaliknya.

Kemungkinan terburuk dari semua menu tersebut.

 

Itu yang saya pikir ketika makan tadi.

 

Jadilah saya makan dengan berat hati dan berat mulut dan berat kerongkongan. Rasanya sulit sekali makanan itu ditelan.

 

Dan sambil makan saya berpikir, memang seharusnya kita selalu bersiap-siap. Berharap untuk yang terbaik, tapi tetap bersiap-siap untuk yang terburuk.

 

Tapi..

Setelah saya pikir lagi, sebenarnya yang tadi belum yang terburuk.

Masih ada kemungkinan yang lebih buruk lagi.

 

Bisa saja atinya belum terlalu matang dan super amis. Bisa saja tumis buncisnya terlau pedas dan pahit. Bisa saja togenya basi dan tahunya asam. Bisa saja kerupuknya melempem atau bahkan kurang mengembang digoreng.

 

Kalau itu yang terjadi mungkin bukan hanya sulit ditelan, tapi malah tidak bisa ditelan atau mungkin bisa ditelan, tapi kemudian keluar lagi.

 

Kembali saya disadarkan bahwa masih banyak nikmat yang harus disyukuri.

Enak tidak enak sebenarnya relatif. Tergantung dibandingkan dengan apa.

 

Mungkin juga sebenarnya menu hari ini biasa saja. Hanya karena kemarin saya baru training dua hari di hotel, selera saya jadi bergeser ke standar hotel, yang tentunya tidak pas jika dibandingkan dengan standar kantin kantor.

 

Maka nikmat Allah yang manakah yang kaudustakan?

 

Pas dapet SMS dari MQ siang ini :

Kesempurnaan iman itu terletak pada rasa syukur dan sabar seorang hamba, dan kesabaran yang sempurna itu adalah sabar pada awal saat terjadinya musibah

 

Hwaduh..


Blog EntryMenjaga Stamina ImanNov 12, '07 5:17 AM
for everyone

Dari Ali Bin Abi Thalib, ada empat cara menjaga stamina iman.

 

Yang pertama, mengamalkan apa yang Allah turunkan, yaitu Al Qur’an.

Baik untuk memiliki Al Qur’an dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, bahkan Bahasa Spanyol sekalipun.

Yang lebih baik lagi adalah adanya terjemahan Al Qur’an dalam perilaku kita sehari-hari.

 

Yang kedua, takut kepada Yang Mahabesar, yaitu Allah SWT.

Implementasinya adalah takut melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah. Takut Allah tidak berkenan dengan tingkah laku kita. Takut Allah tidak menerima amal baik kita.

 

Yang ketiga, ridha dengan yang sedikit, dan bersyukur dengan yang banyak, dalam hal ini rezeki.

Salah satu bentuk syukur adalah zakat, sedekah, dan qurban.

Berikanlah yang terbaik untuk zakat, sedekah dan qurban.

Orang yang pelit jauh dari sesama, jauh dari Allah, jauh juga dari surga-Nya. Semoga kita bukan termasuk orang yang dianggap pelit.

 

Yang keempat, siap menghadapi yang pasti datang, yaitu kematian.

Persiapan menghadapi kematian bukan (hanya) dalam bentuk pemesanan tanah makam atau pembelian kain kafan, yang terpenting adalah muhasabah persiapan amal yang dapat diandalkan ketika kita mati serta persiapan anak-anak kita agar menjadi generasi yang baik ketika kita tinggalkan.

 

Ceramah Senin oleh Ust. Ismeidas M.


Blog EntryPentingnya IlmuNov 2, '07 2:43 AM
for everyone

Dalam Hadis Abi Kabsyah Rasulullah SAW bersabda :

 

Ada empat golongan manusia :

 

Pertama, manusia yang Allah berikan ilmu dan harta, dan dengan ilmu dan harta tersebut, dia bertaqwa kepada Allah, menyambungkan tali silaturahmi, mengetahui hak Allah. Ini adalah manusia yang paling utama.

 

Kedua, manusia yang Allah berikan ilmu tetapi tidak Allah berikan harta, dan dia berniat baik, jika dia memiliki harta, dia akan berbuat seperti si fulan (golongan manusia pertama tadi). Maka dia bersama niatnya, dan dianggap sama dengan golongan manusia pertama tersebut.

 

Ketiga, manusia yang Allah berikan harta, tetapi tidak Allah berikan ilmu, dan dengan harta tersebut, dia tidak bertaqwa kepada Allah, tidak menyambungkan tali silaturahmi, dan dia tidak mengetahui hak Allah. Ini adalah seburuk-buruk manusia.

 

Keempat, manusia yang tidak Allah berikan ilmu dan juga tidak Allah berikan harta, dan dia memiliki niat, jika dia memiliki harta, dia akan berbuat seperti si fulan (golongan manusia ketiga). Maka dia bersama niatnya, dan dianggap sama dengan golongan manusia ketiga tersebut.

 

Dari keempat golongan manusia tersebut, dapat kita lihat bahwa faktor penentu baik tidaknya adalah pada ilmu.

 

Mudah-mudahan kita termasuk golongan manusia yang pertama, atau paling tidak yang kedua.

 

 

*Pengajian Jum’at oleh Ust. Herlini Amran


Blog EntryKeringanan dalam Beribadah (Rukhshah)Nov 1, '07 2:34 AM
for everyone

Islam tidak memberatkan pemeluknya. Untuk itu Allah memberikan keringanan dalam pelaksanaan ibadah atau yang biasa disebut dengan rukhshah.

 

Salah satu bentuk rukhshah adalah bolehnya shalat di-jamak (digabung) dan di-qashar (dipersingkat) jika kita sedang berada dalam perjalanan.

 

Bagaimana sebaiknya kita menyikapi rukhshah? Apakah kita bisa memilih untuk mengambil rukhshah atau tidak, atau kita harus mengambil rukhshah?

 

Menurut ustadz Ahmad Yani, Ternyata Allah menyenangi orang yang mengambil rukhshah, sama seperti Allah menyenangi orang yang menjalankan ketetapan-Nya. Sehingga, rukhshah bukanlah pilihan, tetapi sebaiknya diambil.

 

Pertimbangan yang membuat orang tidak mengambil rukhshah adalah masalah kemudahan transportasi. Dikatakan bahwa mungkin pada zaman dahulu rukhshah diberikan karena perjalanan masih sangat sulit. Jarak 70 km, yang disepakati sebagian besar ulama sebagai jarak minimal berlakunya rukhshah, bias ditempuh selama berhari-hari jika menggunakan unta atau berjalan kaki.

 

Namun tidak demikian. Implementasi rukhshah tidak dipengaruhi kemudahan transportasi. Walaupun Jakarta – Bandung sekarang sudah bisa ditempuh dalam satu jam saja lewat Cipularang, tetap kita sebaiknya mengambil rukhshah. Walaupun Jakarta – Singapura dapat ditempuh selama satu jam saja dengan pesawat terbang, tetap sebaiknya kita mengambil rukhshah.

 

Penjelasan yang pernah saya dengar adalah, rukhshah diberikan karena, bagaimanapun, seseorang jika tidak berada di tempat tinggalnya, ada rasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman itulah yang dikompensasi dengan rukhshah. (Ini bukan penjelasan dari Pak Ustadz J )

 

Bagaimana dengan perjalanan haji?

 

Di perjalanan haji, di Mekkah dan Madinah, biasanya tidak dilakukan jamak dan qashar pada shalat. Orang melaksanakan shalat lima waktu sesuai waktunya.

 

Jika mengacu ke buku Haji, tulisan Ali Shariati, orang berhaji adalah seperti pulang ke kampung halaman, seperti kembali ke tempat yang dia cari selama ini, sehingga mungkin justru yang terasa adalah rasa nyaman.

 

Pertimbangan lain, mungkin karena dilipatgandakannya nilai ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sehingga sebaiknya jika dioptimalkan.

 

Dua paragraf terakhir, dari pemikiran saya sendiri yaa.. J

 

* dari pengajian Kamis, 1 November 2007, oleh Ust. Ahmad Yani

 


Blog EntryPagi ini Jakarta cerah.. Oct 31, '07 8:48 PM
for everyone

Pagi ini Jakarta cerah sekali ya? Jam 5.50 matahari sudah bersinar terang, cahaya hangatnya menembus jendela kamar saya yang biasanya baru kena matahari jam 7-an.

 

Namun di kehangatan cahaya matahari itu ada sejumput dingin di hati saya. Hiks.

 

Siang ini adik saya dan keponakan-keponakan saya yang imut-imut pulang ke Kalimantan setelah 6 hari di Jawa.

 

Kami sempat berjumpa 2 hari di Bandung tetapi dalam ketergesaan sehingga belum plong rasanya. Belum sempat anak-anak saya bermain dengan sepupu-sepupunya.

 

Saya mengira mereka akan berakhir pekan di Jakarta sehingga saat itulah kita bisa menghabiskan waktu dengan santai.

 

Then again, you can’t always have what you want. Always hope for the best but also be prepared for the worst.

 

Kalau mengikuti kata hati, ingin rasanya saya bolos hari ini, main sebentar dengan mereka dan ikut melepas mereka berangkat ke Kalimantan.

 

Tapi, itu bukan hal yang benar ya?

 

Dan biasanya, kalau saya melakukan hal yang salah, akan ada dampak yang segera terasa. Menyebarkan energi negatif, akan menerima energi negatif.

 

Kok tidak cuti saja? Cuti saya tinggal 2 hari, yang katanya akan dipotong oleh perusahaan di akhir tahun untuk cuti bersama.

 

Apa seharusnya anak-anak saya liburkan saja ya? Sehingga paling tidak mereka sempat main dengan sepupu-sepupunya.

 

Ya Allah, tunjukkan bahwa yang benar adalah benar dan berikan aku kekuatan untuk menjalankannya. Dan tunjukkan bahwa yang salah adalah salah dan berikan aku kekuatan untuk menghindarkannya.

 

Mudah-mudahan keputusan saya untuk tetap bekerja hari ini adalah keputusan yang benar.

 

Buat adikku sekeluarga, selamat jalan yaa, sampai jumpa lagi di kesempatan yang lebih menyenangkan J


Pages:12
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help